Kamis, 21 Januari 2016

RANCA UPAS

RANCA UPAS
 




Keberadaan destinasi wisata Ranca Upas Ciwidey membuktikan bahwa Jawa Barat adalah salah satu destinasi kegiatan wisata alam yang populer di Indonesia. Secara lebih spesifik, kawasan wisata Ciwidey di Bandung selalu menyedot jumlah kunjungan wisatawan yang besar dari waktu ke waktu.
Kampung Cai Ranca Upas, begitu banyak orang menyebutnya, adalah sebuah perkampungan yang terletak di tengah-tengah hutan dengan ragam keindahan yang menyejukkan mata. Tempat wisata ini terletak tepat di Desa Alam Endah, Kecamatan Ranca Upas, berjarak sekitar 50 kilometer di arah selatan dari pusat kota Bandung.
Kampung Cai Ranca Upas Ciwidey memiliki luas lahan kurang lebih 215 hektar. Udara disini sangat sejuk dan melegakan karena lokasinya yang berada di ketinggian 1.700 meter dpl. Dalam kamus bahasa Sunda, “Kampung Cai” dapat diartikan sebagai “Desa Air”. Inilah sebab tak jarang orang menyebut kawasan ini dengan nama Desa Air Ranca Upas.
Di sekitar lokasi perkampungan adalah areal hutan lindung di mana banyak terdapat jenis pepohonan yang jarang dijumpai, seperti pohon Puspa, Huru, Pasang, Hamirung, Kurai, Jamuju, Kitambang, dan Kihujan. Tak hanya itu, kawasan ini juga kaya akan kehidupan fauna. Anda dapat menyaksikan populasi burung dan satwa-satwa yang bergerak bebas di antara pepohonan.
Panorama alami di Ranca Upas
Panorama alami di Ranca Upas via fromwoman.com
Alamat Ranca Upas: Jl. Raya Ciwidey – Patenggang KM 11, Desa Alam Endah, Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat Peta Lokasi: klik di sini Koordinat GPS: -7.142808,107.392426

Penangkaran Rusa Jawa di Ranca Upas Ciwidey

Kawasan wisata Ranca Upas di Ciwidey dulunya adalah bumi perkemahan yang sekaligus pula sebagai tempat kegiatan outdoor yang diselenggarakan berbagai komunitas. Dengan kondisi geografis dan karakteristik alamnya yang unik, sejumlah fasilitas menarik ditambahkan di kawasan ini, seperti War Games, ATV, dan Kolam Renang Air Hangat.
Wahana air di Kampung Cai Ranca Upas
Wahana air di Kampung Cai Ranca Upas via sagaraoutdoor.blogspot.com
Salah satu aktivitas populer yang biasa dilakukan di sana adalah mengunjungi konservasi penangkaran Rusa Jawa (Cervus Timorensis). Di tempat penangkaran, Anda dapat berinteraksi langsung dengan kawanan rusa yang hidup bebas di alam terbuka. Areal pengangkaran berada pada luas lahan sebesar 5 hektar.
Kegiatan populer yang dilakukan wisatawan di tempat ini adalah memberi makan rusa-rusa tersebut dengan sayuran dan wortel yang telah disediakan.
Cervus Timorensis atau Rusa Jawa yang ditangkar di hutan lindung kawasan Ranca Upas Ciwidey memiliki bulu indah coklat kemerahan, sementara bulu leher dan kaki terlihat sedikit lebih terang. Konon, kawasan Ranca Upas hanya terdapat 11 ekor rusa saja dengan 5 diantaranya betina. Tetapi setelah bertahun-tahun dipelihara dan dibiarkan bebas berkeliaran, lahirlah bayi-bayi rusa yang semakin bertambah jumlahnya.
Kawanan rusa di Ranca Upas
Kawanan rusa di Ranca Upas via siskanurifah.wordpress.com
Area penangkaran Rusa Jawa ini juga terhubung dengan lokasi kegiatan wisata lainnya, yaitu area Outbound Tegal Kawani. Di sini Anda dapat berkemah dengan sejumlah akomodasi dan fasilitas yang telah disediakan dengan baik.

SITU PATENGGANG

SITU PATENGGANG



 

 
Situ Patenggang Ciwidey atau juga populer dengan sebutan Situ Patengan adalah sebuah danau yang berada di kawasan wisata Ciwidey Bandung. Berjarak sekitar 47 km dari kota Bandung, Anda dapat tiba di kawasan wisata Situ Patenggang ini dengan waktu perjalanan sekitar 45 menit hingga 1 jam. Dari sejumlah tempat wisata di Bandung, pesona alam Situ Patenggang adalah salah satu destinasi yang populer dikunjungi wisatawan.
Situ Patenggang terletak pada daerah berketinggian mencapai 1600 meter dpl, menyuguhkan Anda panorama alam yang eksotik. Sejauh mata memandang horizon di depan, terlihat hamparan kebun teh hijau laksana sebuah karpet alam yang terbentang indah. Semilir udara sejuk khas pegunungan beserta hangatnya matahari menyentuh kulit turut menambah pesonanya. Pada awalnya, danau (situ) ini adalah sebuah kawasan cagar alam, tetapi sejak tahun 1981 danau seluas 45.000 hektar ini resmi dibuka menjadi sebuah taman wisata alam.
Horizon hijau Situ Patenggang
Horizon hijau Situ Patenggang
Berasal dari bahasa Sunda, kata “situ” berarti danau dan “patengan” berarti saling mencari. Alkisah, terdapatlah sepasang anak manusia yang saling mencintai, yaitu Dewi Rengganis dan Ki Santang. Namun, keduanya terpisah untuk waktu yang lama. Karena rasa cinta yang sangat mendalam, mereka saling mencari satu sama lain dan akhirnya bertemulah di sebuah tempat yang kini dikenal sebagai Batu Cinta. Dewi Rengganis lalu meminta dibuatkan sebuah danau dan perahu agar mereka berdua dapat berlayar bersama. Hal ini dipenuhi oleh kekasihnya.
Cerita masyarakat lokal menyebut perahu tersebut saat ini adalah pulau Asmara atau yang juga disebut sebagai Pulau Sasaka yang berbentuk hati. Diyakini, sepasang kekasih yang mengunjungi Batu Cinta dan mengelilingi Pulau Asmara akan mendapatkan cinta sejati dan abadi sebagaimana yang terjadi pada Dewi Rengganis dan Ki Santang.
Baca juga: Ini 8 Tempat Wisata di Bandung Paling Terkenal
Cerita lokal di Situ Patenggang Ciwidey
Cerita lokal di Situ Patenggang Ciwidey
Untuk dapat masuk ke kawasan wisata Situ Patenggang Ciwidey, Anda harus membayar tiket masuk Situ Patenggang sebesar Rp 15 ribu per orang. Ini belum termasuk biaya parkir kendaraan. Jika Anda membawa motor, biaya parkir adalah sebesar Rp 3.500 dan untuk kendaraan mobil sebesar Rp 11 ribu, untuk bus sebesar Rp 22 ribu.
Kondisi infrastruktur wisata Situ Patenggang Ciwidey ini sudah tertata sedemikian baik, dari berbagai fasilitas publik hingga akses jalan dan akomodasi yang cukup. Anda dapat menjumpai lahan parkir yang luas, rumah makan, gazebo, mushola, penginapan, penyewaan perahu, sepeda air, toko suvenir, toko buah, hingga toilet umum. Bagi Anda yang membawa bekal makanan atau jananan kuliner sendiri tatkala datang ke tempat ini, Anda dapat menyewa tikar sebagai tempat bersantap sembari menikmati panorama indah di Situ Patenggang Ciwidey tersebut.

Sisi Menarik Situ Patenggang Ciwidey

Ada banyak kegiatan menarik yang dapat Anda lakukan di Situ Patenggang. Mulai dari bersepeda air, mengelilingi danau dengan perahu angsa, memancing, mengunjungi Batu Cinta, mengelilingi Pulau Asmara, berjalan keliling kebun teh, atau sekedar berpiknik di pinggiran danau. Inilah sebab mengapa objek wisata Ciwidey yang satu ini disukai sebagai salah satu destinasi wisata keluarga favorit di Bandung.
Baca juga: 7 Pesona Memikat Tempat Wisata Ciwidey Bandung
Salah satu tempat romantis di Ciwidey Bandung ini juga merupakan destinasi liburan yang menarik bagi Anda yang sedang dalam perjalanan bersama pasangan tercinta. Cara paling populer yang dilakukan sepasang kekasih adalah mengunjungi Batu Cinta dan mengelilingi pulau Asmara. Meski hanya berangkat dari sebuah mitos lokal, namun hal ini adalah sebuah kegiatan yang menarik untuk melalui waktu bersama pasangan di Situ Patengan.
Untuk dapat mengelilingi pulau Asmara, Anda harus menyewa perahu. Pulau ini terletak di bangian tengah danau dan terlihat rindang dengan ditumbuhi banyak pepohonan. Sementara itu, Batu Cinta terdapat di sisi seberang danau yang konon diyakini menjadi lokasi pertemuan Dewi Rengganis dan Ki Santang.

CURUG DAGO

CURUG DAGO



 Curug Dago merupakan sebuah objek wisata Air terjun di bandung yang memiliki ketinggian air sekitar 12 m saja dan berada pada ketinggian sekitar 800 meter diatas permukaan laut. Terbentuknya curug ini berasal dari aliran sungai Cikapundung yang mengalir dari Maribaya dan memasuki kota Bandung.

Karena lokasinya bisa dikatakan tersembunyi, dan berada di daerah Bukit Dago yang masih termasuk dalam kawasan Taman Hutan Raya Ir H Djuanda, Bandung, dan kurangnya promosi wisata membuat curug ini semakin sedikit pengunjungnya. Walaupun demikian wisata Curug Dago menyimpan jejak sejarah dari Kerajaan Thailand. Tidak jauh dari air terjun, terdapat dua buah prasasti batu tulis bekas peninggalan sejarah pada tahun 1818 M.  Menurut penafsiran dari para ahli sejarah, dua prasasti tersebut merupakan peninggalan dari Raja Rama V  atau Raja Chulalonkorn dan Raja Rama VII atau Pradjathipok Pharaminthara yang berasal dari dinasti Chakri dan pernah berkunjung ke Curug Dago.
Curug Dago
Curug Dago

Saat ini keadaan wisata Curug Dago sudah banyak mengalami perubahan, salah satunya adalah kondisi air sungainya yang keruh dan berwarna kecoklatan dan juga sudah mulai banyak sampah yang mengotori aliran sungai. Hal ini terjadi karena sudah banyaknya pemukiman yang terdapat diatas Curug serta semakin banyaknya pabrik-pabrik pengolahan yang menyebabkan hutan yang dahulunya berfungsi sebagai pelindung ekosistim alam semakin lama semakin tergerus.

KAWAH PUTIH

KAWAH PUTIH



 Terletak di Ciwidey, sekitar 50 KM di selatan Bandung, Kawah Putih Ciwidey adalah salah satu tempat wisata di Bandung yang paling populer, terutama di kalangan pecinta wisata alam. Kawah Putih Ciwidey, sesuai dengan namanya adalah sebuah kawah vulkanik dengan tanah yang bewarna putih. Warna putih ini karena terdapat kandungan belerang pada tanahnya. Keunikan utama dari kawah putih adalah airnya yang selalu berubah warna.

Letusan hebat oleh Gunung Patuha pada abad ke 10 membuat banyak orang beranggapan bahwa lokasi ini adalah kawasan angker karena setiap burung yang terbang melewati kawasan tersebut akan mati. Karena kepercayaan tersebut, tidak ada orang yang berani mendekati kawasan ini sampai akhirnya pada tahun 1837 ada seorang ahli bernama Dr. Franz Wilhelm Junghuhn yang memutuskan untuk pergi ke puncak Gunung Patuha demi ilmu pengetahuan.
Dr. Franz Wilhelm Junghuhn berhasil mencapai puncak Gunung Patuha dan dari sana ia melihat ada sebuah danau berwarna putih dengan bau belerang yang menyegat. Sejak itu, keberadaan Kawah Putih menjadi terkenal dan pada tahun 1987 pemerintah mulai mengembangkan Kawah Putih sebagai tempat wisata.


Untuk sampai di kawah putih pengunjung bisa menggunakan route perjalanan sebagai berikut: Pengunjung dari luar Bandung yang menggunnakan kendaraan roda empat dapat melewati jalur pintu Keluar Tol Kopo, melewati sayati dan dilanjutkan ke Soreang, dari soreang dilanjukan ke Ciwidey dan sampailah di lokasi kawah putih. Route alternatif bisa menggunakan jalur tol Buah Batu.
Sedangkan bagi wisatawan yang menggunakan kendaraan umum, akses ke kawah putih ditempuh dengan menggunakan jalur terminal Leuwi Panjang - dilanjutkan ke terminal Ciwidey - lokasi Kawah Putih





Sabtu, 16 Januari 2016

SITU CANGKUANG

SITU CANGKUANG




  
Situ (danau) Cangkuang yang terletak di Kecamatan Leles ini memang tidak terlalu besar dengan situ-situ kebanyakan. Tempatnya memang bagus tapi untuk masuk kesana cukup terjangkau kalangan bawah. Walaupun tidak memiliki situ yang besar tapi cukup untuk berakit-rakit dengan rakit yang terbuat dari bambu.
Penarik rakitnya pun kebanyakan orang sekitar Desa Cangkuang. Situ Cangkuang Garut pun mengandung nilai sejarah yang sangat kental itupun alas an wisatawan datang kesana. Hal yang menarik dari situ cangkuang adanya Candi Hindu kecil yang ditemukan tahun 1966 ini.





Candi Cangkuang Garut
ini menjadi satu-satunya Candi Hindu yang ditemukan di daratan Sunda dan yang menariknya lagi candi itu terdapat di pulau kecil di tengah Situ Cangkuang ini merupaka salah satu Objek Wisata di Garut yang mengandung nilai Budaya dan Sejarah. Tempat Wisata di Garut ini adalah merupakan salah satu yang terbaik diantara yang terbaik yang ada di Garut

Seperti yang disebutkan bahwa Kawasan situ cangkuang kental dengan nilai sejarah, karena selain candi yang bisa kita temukan ada juga makam kuno sejarah Islam yaitu Arief Muhammad yang dianggap penduduk setempat sebagi leluhur mereka. Memang cukup aneh peninggalan sejarah Hindu dan Islam bisa menyatu, itu yang membuat menarik tempat ini. 

Diperkirakan kedua benda tersebut bukan dari zaman yang sama, maka dari itu tempat ini juga sering menjadi karyawisata siswa maupun mahasiswa. Selain candi dan makam yang menjadi daya tarik pengunjung, ada suatu pemukiman kecil yang terdapat disana, namanya kampung pulo. 

Sekilas mendengar namanya kampung ini biasa-biasa saja, tapi bila dilihat hanya ada 7 rumah yang terdapat dan dari dulu hingga sekarang hanya ada 7 rumah dan 7 kepala keluarga yang terdapat itu menjadi sesuatu yang unik dan aneh. Itu merupakan tradisi yang masih di pertahankan oleh penduduk asli kampung pulo yang leluhurnya adalah Arief Muhammad. 

Selain beberapa kronolagi sejarah yang terdapat disana, ada museum yang bisa menjadi tempat menarik berikutnya, ada reflika candi cangkuang yang bagus. Dan jangan khawatir untuk anda pengunjung yang senaang berbelanja karena disana tersedia tempat belanja khas Situ Cangkuang. Nah mungkin ini bisa menjadi referensi liburan anda dan keluarga.
 
 
 

TANGKUBAN PERAHU

TANGKUBAN PARAHU




Tangkuban Parahu atau Gunung Tangkuban Perahu adalah salah satu gunung yang terletak di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Sekitar 20 km ke arah utara Kota Bandung, dengan rimbun pohon pinus dan hamparan kebun teh di sekitarnya, Gunung Tangkuban Perahu mempunyai ketinggian setinggi 2.084 meter. Bentuk gunung ini adalah Stratovulcano dengan pusat erupsi yang berpindah dari timur ke barat. Jenis batuan yang dikeluarkan melalui letusan kebanyakan adalah lava dan sulfur, mineral yang dikeluarkan adalah sulfur belerang, mineral yang dikeluarkan saat gunung tidak aktif adalah uap belerang. Daerah Gunung Tangkuban Perahu dikelola oleh Perum Perhutanan. Suhu rata-rata hariannya adalah 17 oC pada siang hari dan 2 oC pada malam hari.
Gunung Tangkuban Perahu mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

Asal-usul Gunung Tangkuban Perahu dikaitkan dengan legenda Sangkuriang, yang dikisahkan jatuh cinta kepada ibunya, Dayang Sumbi/Rarasati. Untuk menggagalkan niat anaknya menikahinya, Dayang Sumbi mengajukan syarat supaya Sangkuriang membuat sebuah telaga dan sebuah perahu dalam semalam. Ketika usahanya gagal, Sangkuriang marah dan menendang perahu itu sehingga mendarat dalam keadaan terbalik. Perahu inilah yang kemudian membentuk Gunung Tangkuban Parahu.
Gunung Tangkuban Parahu ini termasuk gunung api aktif yang statusnya diawasi terus oleh Direktorat Vulkanologi Indonesia. Beberapa kawahnya masih menunjukkan tanda tanda keaktifan gunung ini. Di antara tanda aktivitas gunung berapi ini adalah munculnya gas belerang dan sumber-sumber air panas di kaki gunungnya, di antaranya adalah di kasawan Ciater, Subang. Gunung Tangkuban Parahu pernah mengalami letusan kecil pada tahun 2006, yang menyebabkan 3 orang luka ringan.
Keberadaan gunung ini serta bentuk topografi Bandung yang berupa cekungan dengan bukit dan gunung di setiap sisinya menguatkan teori keberadaan sebuah telaga besar yang kini merupakan kawasan Bandung. Diyakini oleh para ahli geologi bahwa kawasan dataran tinggi Bandung dengan ketinggian kurang lebih 709 m di atas permukaan laut merupakan sisa dari danau besar yang terbentuk dari pembendungan Ci Tarum oleh letusan gunung api purba yang dikenal sebagai Gunung Sunda dan Gunung Tangkuban Parahu merupakan sisa Gunung Sunda purba yang masih aktif. Fenomena seperti ini dapat dilihat pada Gunung Krakatau di Selat Sunda dan kawasan Ngorongoro di Tanzania, Afrika. Sehingga legenda Sangkuriang yang merupakan cerita masyarakat kawasan itu diyakini merupakan sebuah dokumentasi masyarakat kawasan Gunung Sunda Purba terhadap peristiwa pada saat itu.




SITU BAGENDIT

SITU BAGENDIT




Situ Bagendit terletak di desa Bagendit, Kecamatan Banyuresmi Kabupaten Garut, Jawa Barat, Indonesia. Situ Bagendit merupakan objek wisata alam berupa danau dengan batas administrasi disebelah utara berbatasan dengan Desa Banyuresmi, disebelah selatan berbatasan dengan Desa Cipicung, disebelah timur berbatasan dengan Desa Binakarya, dan disebelah barat berbatasan dengan Desa Sukamukti.
Aktivitas wisata yang dapat dilakukan di Situ Bagendit ini antara lain menikmati pemandangan, mengelilingi danau dengan menggunakan perahu atau rakit. Para pengunjung juga dapat melakukan kegiatan rekreasi keluarga, menikmati pemandangan serta kegiatan bersepeda air.
Objek wisata ini dikelola oleh Bapak Ajan Sobari dengan status kepemilikan berada di tangan pemerintah daerah yang kewenangannya dilimpahkan kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut dan pihak swasta yaitu Bapak Adang Kurnia. Berdasarkan perda no. 11 tahun 2001 harga masuk tiket ke kawasan ini Rp. 1.000/orang untuk dewasa dan Rp. 500/orang untuk anak-anak.

Objek dan daya tarik wisata alam Situ Bagendit memiliki kualitas lingkungan, kebersihan dan bentang alam dalam kondisi yang baik. Bangunan-bangunan yang terdapat di kawasan, baik yang permanen maupun semi permanen, dalam kondisi terawat baik. Di kawasan ini terdapat pencemaran sampah dan vandalisme berupa coretan di bangunan dan pohon. Visabilitas di kawasan ini sedikit terhalang, tingkat kebisingan yang sedang dan terdapat rambu iklan.
Fasilitas yang tersedia di kawasan ini yaitu penyewaan 60 buah rakit dengan tarif Rp.25.000/15 menit, 11 buah sepeda air dengan tarif Rp.10.000/15 menit yang dalam kondisi yang baik. Terdapat pula beberapa bangku taman dan 6 buah shelter yang disewakan untuk pengunjung dengan harga Rp.3.000/jam. Terdapat juga kereta api mini dengan tarif Rp.2.000 dan kolam renang dikawasan Situ Bagendit ini. Suasana di kawasan objek wisata ini tergolong cukup nyaman dikarenakan pembangunannya sudah direncanakan dengan baik oleh dinas pariwisata namun masih juga terdapat kios liar dan pedagang kaki lima yang dengan sembarangan menggelar barang dagangan mereka sehingga tingkat visabilitas di kawasan tersebut menjadi sedikit terhalang.Objek dan daya tarik wisata Situ Bagendit ini beroperasi pukul 07.00-17.00. Kondisi bangunan yang terdapat di kawasan ini dalam kondisi yang baik dengan jenis material bangunan permanen dan semi permanen dalam tata ruang yang cukup baik dikarenakan pembangunan di kawasan Situ Bagendit ini sudah direncanakan dengan baik. Dikawasan objek dan daya tarik wisata Situ Bagendit ini kualitas lingkungan, kebersihan dan bentang alamnya dalam kondisi yang baik.di kawasan ini terdapat pencemaran sampah dan vandalisme berupa coretan di bangunan dan pohon yang disebabkan oleh pengunjung.Visabilitas di kawasan ini sedikit terhalang, tingkat kebisingan yang sedang dan sedikit terdapat rambu iklan.
Sumber daya listrik di kawasan ini berasal dari PLN dengan voltase 220 volt dan distribusi yang cukup. Sumber daya air bersih di kawasan ini berasal dari sumur dan PDAM dengan kualitas air yang jernih, rasa air yang tawar, dan bau air yang normal. Terkadang terdapat kendala pemanfaatan air di kawasan Situ Bagendit yaitu apabila musim kemarau air disekitarnya menyurut. Sistem pembuangan limbah di kawasan ini yaitu melalui septic tank, selokan dan melalui sistem irigasi. Kawasan wisata Situ Bagendit ini juga memiliki sistem komunikasi berupa telepon dalam jumlah yang kurang memadai. Terdapat pula jalan setapa dikawasan Situ Bagendit ini yang panjangnya ?b 50m. di depan kawasan Situ Bagendit terdapat tempat parkir dengan luas 1400 m2 dengan daya tampung 30 bus, 60 kendaraan pribadi dan 180 kendaraan bermotor dalam kondisi yang cukup baik dengan lapisan permukaan berupa tanah, namun vegetasi peneduhnya kurang memadai. Terdapat sebuah pos tiket yang juga berfungsi sebagai pintu masuk dalam kondisi yang cukup baik.terdapat pula sebuah toilet umum dalam kondisi bangunan dan kebersihan yang cukup. Dikawasan ini terdapat taman bermain dengan vegetasi peneduh dan dalam kondisi yang cukup. Terdapat tempat ibadah berupa Mushola dan juga terdapat 10 buah tempat sampah dikawasan wisata Situ Bagendit.
 Jarak kawasan wisata Situ Bagendit ini dari pusat kota Garut yaitu 4 km. Terdapat angkutan umum berupa angkot jurusan Terminal Guntur-Kp.Mengger dan Garut-Limbangan dengan tarif Rp.1.500 dan ojeg dengan tarif Rp.2.000.Kualitas pemandangan dan tingkat keamanan sepanjang jalan di kawasan objek dan daya tarik wisata ini cukup baik.jumlah karyawan di objek dan daya tarik wisata Situ Bagendit ini yaitu 6 orang. Pengunjung yang berkunjung ke objek wisata ini perbulannya mencapai 400-600 orang. Pengunjung tersebut biasanya berasal dari Garut, Sukabumi, Tasikmalaya, Bogor,Bandung dan Jakarta.